Protes Ketum PPP ke Emil: Tak Tegas, Banyak Janji Hingga Bicara Tarik...

Protes Ketum PPP ke Emil: Tak Tegas, Banyak Janji Hingga Bicara Tarik Dukungan

Metroonline.id, Jakarta – Wali Kota Bandung Ridwan Kamil belum menentukan siapa pendampingnya untuk maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat tahun 2018. Dua partai politik pengusungnya ngotot ingin menyodorkan kader masing-masing sebagai calon wakil bagi pria yang akrab disapa Emil ini.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ingin Emil berduet dengan Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum. Sementara, Partai Golkar menyodorkan nama Daniel Mutaqqien yang merupakan kadernya. Akibat hal ini, maka Ridwan Kamil belum memutuskan secara pasti siapa pendampingnya. Apalagi, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga tak mau kalah usulkan nama, dia adalah Syaiful Huda dan Maman Imanulhaq.

Belum jelas soal pendamping bagi Emil ini, membuat Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romi) menjadi gerah. Tak tanggung-tanggung, Romi menyebutkan sejumlah perjanjian yang dilontarkan Emil saat tengah berbicara soal dukungan di Pilgub Jawa Barat.

Romi mengingatkan Emil agar berpegang teguh kepada apa yang telah dijanjikan sebelum terbitnya Surat Keputusan (SK) rekomendasi dukungan kepadanya pada 24 Oktober lalu. Salah satu poin yang dijanjikan yakni terkait langkah Emil untuk menggandeng kader PPP menjadi pendampingnya di Pilgub Jabar.

Romi menceritakan pada awal bulan Ramadhan lalu, dirinya disodori hasil survei oleh Emil terkait figur pemimpin pilihan masyarakat Jabar. Kepada Romi, Emil menyebut bahwa figur pemimpin yang dibutuhkan rakyat Jabar itu adalah kombinasi pasangan calon intelektual yang mewakili masyarakat perkotaan dan figur santri milenial yang mewakili masyarakat pedesaan, di mana dalam hal ini direpresentasikan oleh PPP lewat Uu.

“Awal bulan Ramadhan saya disodori sendiri sama Kang Emil hasil survei. Menurut hasil survei selama beberapa kali, masyarakat Jabar ada 4 pilihan waktu itu. Pertama, figur antara teknokrat dengan ulama atau santri. Yang kedua adalah teknokrat dengan birokrasi, yang ketiga teknokrat dengan akademisi dan yang terakhir teknokrat dengan politisi. Nah karena itu figur yang kita tonjolkan alumni pesantren dan memiliki basis jaringan konkret dan kuat di Jabar dulu kita sodorkan dua nama yakni Kang Asep dan Kang Uu,” ujar Romi, Selasa (5/12).

lantas, Romi menyebut partainya ikut pula melakukan survei untuk melihat elektabilitas dari dua calon yang disodorkan. Dari hasil survei keluarlah nama Uu Ruzhanul Ulum sebagai calon yang memiliki elektabilitas paling tinggi dibanding Asep Maoshul. Setelah itu dirinya pun menyodorkan nama Uu kepasa Emil. Saat disodorkan nama Uu, Romi menyebut Emil langsung setuju apabila dipasangkan dengan Bupati Tasikmalaya tersebut.

“Kita ajak diskusi Kang Emil sebelum SK rekomendasi terbit bahwa hasilnya seperti itu (Elektabilitas Uu tinggi). Saya bilang siap berpasangan dengan Kang Uu yah? Siap (kata Emil),” ucap Romi menirukan Emil.

Sebut banyak janji dan tak tegas

Romi menilai Emil kebingungan dalam menentukan wakil karena terlalu banyak mengumbar janji kepada partai politik. Padahal, menurut Romi, saat ini adalah waktu yang paling tepat bagi Emil untuk menentukan siapa pendampingnya, mengingat waktu pendaftaran yang semakin dekat.

“Itu karena ketidaktegasan Kang Emil dalam mengelola siapa yang akan menjadi pasangan calonnya untuk wagub. Di samping terlalu banyak berjanji kepada semua partai politik, sehingga akibatnya sekarang kebingungan sendiri,” ujar Romi.

Romi menyebut, banyak perubahan-perubahan yang mengejutkan setelah Emil mendapatkan dukungan dari sejumlah parpol. Pada saat awal penjajakan bersama PPP lewat safari Ramadhan keliling Jawa Barat, kata Romi, Emil telah menyampaikan keinginan untuk bersinergi bersama PPP dengan menggandeng salah satu kadernya sebagai calon wakil Gubernur. Namun rupanya, Emil menjanjikan hal yang sama kepada semua partai politik untuk mendapatkan dukungan.

“Sebenarnya tidak salah, bukan hal yang melanggar norma ketika dukungan belum didapat, tapi ketika dukungan sudah didapat adalah sudah selayaknya Kang Emil menetapkan siapa yang duduk di sana. Sehingga tidak memberikan ketidakpastian yang berlarut-larut,” katanya.

Ancam tarik dukungan

Akibat tak jelasnya siapa yang bakal mendampingi Emil tersebut, Romi bicara soal tarik dukungan ke pria yang memulai karir sebagai seorang arsitek tersebut. Dia tak menutup kemungkinan menarik dukungan apabila pada akhirnya Emil tak memilih Uu sebagai pendampingnya.

“”Politik itu seni kemungkinan. Politik itu tidak pernah ada satu opsi, selalu ada banyak opsi. Oleh karena itu kami juga akan memikirkan kembali kalau memang apa yang disepakati tidak berjalan sesuai dengan kesepakatan bersama,” ujar Romi.

Romi menilai, sikap Emil yang tidak konsisten menjadi bahan pertimbangan bagi PPP untuk menentukan sikap ke depannya seperti apa. Sehingga, segala kemungkinan masih bisa terjadi.

“Jadi ini yang saya pikir menjadi pertimbangan kembali ke depan. Saya hanya mengatakan di dalam politik semua mungkin, politik itu adalah seni kemungkinan,” katanya.

Namun demikian, Romi pun berharap agar Emil tetap konsisten dengan pilihan politik yang dari awal dia sampaikan kepada PPP. Apalagi penyampaiannya dilakukan di depan forum partai di tingkat DPP.

“Hari ini saya masih menyimpan asumsi Husnudzon bahwa ini (konvensi) hanyalah cara untuk menjawab kepada seluruh pihak yang selama ini diminta untuk menjadi wakil, dijanjikan menjadi wakil dari semua parpol yang ada. Untuk pada akhirnya tidak mungkin kan ada lebih dari satu calon wagub,” ucap Romi.

Disinggung kemungkinan PPP mengalihkan dukungannya kepada calon lain, Romi enggan menanggapi lebih jauh. Dia mengaku tidak ingin berandai-andai.

“Bukan tipikal PPP untuk seperti itu, ketika kami memutuskan maka kami fokus. Tapi tentu ada titik di mana kita menilai ketika kita memberikan loyitas keistiqomahan dan dukungan penuh kira-kira apa timbal baliknya yang tentu sederhana dalam kacamata politik there’s no free lunch,” katanya.

Beri tenggat hingga 25 Desember

Romi menegaskan bahwa tidak perlu digelar konvensi untuk menentukan siapa pendamping Ridwan Kamil di Pilgub Jabar 2018 mendatang. Romi menyebut, Emil harus memiliki ketegasan untuk menentukan sendiri wakilnya.

“Jadi semestinya tidak perlu lagi ada konvensi,” ujarnya.

Romi mengaku terkejut dengan gelaran konvensi yang digagas untuk menentukan pendamping Emil. Sebab awalnya Romi tidak mengetahui jika dalam konvensi akan ada tim panelis yang akan menilai pada kandidat bakal calon wakil.

“Jujur ketika disampaikan kepada saya oleh Kang Emil menggunakan mekanisme konvensi itu dia katakan nanti kita survei (wakil) akhir November. Nah ketika muncul akhir pekan lalu (konvensi) Saya terkejut surveinya enggak muncul, tapi yang muncul justu 9 nama yang kita tidak pernah menerima informasi sebelumnya. Dan kita juga tidak bisa tahu akan digunakan 9 panelis ini apakah akan digunakan uji kelayakan dan kepatutan, atau entah apa,” ucap Romi.

Romi pun memberikan tenggat waktu kepada Emil untuk segera menentukan pendampingnya sebelum 25 Desember 2017. Hal ini mengingat waktu pendaftaran yang semakin dekat.

“Pendaftaran kan tanggal 8 Januari (2018) ya. Jadi Saya berharap sebelum tanggal 25 Desember, karena tanggal 25 biasanya mengiringi hari Natal itu diikuti dengan libur panjang. Jadi sebelum tanggal 25 harus ada keputusan itu (penentuan wakil). Dan tentu saya berharap ini dikomunikasikan dengan baik agar tidak mengubah secara dratis konstelasi yang ada,” ujarnya. (Mr/foto: ist).

Redaksi

BERBAGI