Lima Kejanggalan Penipuan Bank DBS Singapura Terungkap

    Lima Kejanggalan Penipuan Bank DBS Singapura Terungkap

    Metroonline.id, Jakarta – Pengadilan Negeri Jakarta Timur melanjutkan sidang atas terdakwa Robiatun (RDS), Kamis (1/2/2018) kemarin.

    Robiatun adalah pemilik perusahaan PT Jerminggo Global Internasional yang ditangkap atas tindak pidana penipuan yang menarik dana dari rekening nasabah Bank DBS Singapura dengan agenda pembacaan keterangan beberapa saksi.

    Ketua Jaksa Penuntut Umum Ferly Kasdi menghadirkan empat orang saksi yang merupakan karyawan pemilik rekening di Bank DBS Singapura dan semuanya mengaku tidak mengenal sosok Robiatun.

    Andi Laurencius sebagai saksi pertama mengungkapkan bahwa perbuatan terdakwa diketahui dilakukan tanggal 29 November 2016.

    Robiatun diketahui membuka rekening BRI atas nama PT Jerminggo Global Internasional dan menarik dana 300 ribu dolar AS atau sekitar Rp 4 miliar dengan menggunakan Telegraphic Transfer Form (TTF) yang dipalsukan.

    Andi mengaku bahwa perbuatan terdakwa baru diketahui beberapa bulan setelah dana tersebut diambil oleh terdakwa dan langsung melaporkan ke Polri dan Kepolisian Singapura.

    Setelah ditelusuri Bareskrim kemudian memberitahu Andi bahwa ada 9 transaksi ilegal di mana pemilih rekening di Bank DBS Singapura tidak mengetahui dan memerintahkan transaksi tersebut yang salah satunya ke BRI.

    Mengetahui hal tersebut Andi langsung memberitahu saksi kedua yang memiliki kewenang melakukan penarikan dari dan ke rekening nasabah di Bank DBS Singapura.

    Setelah itu diketahui ada lima kejanggalan yang kemudian akhir-akhir ini diketahui sebagai pemalsuan TTF yang seharusnya merupakan wewenang saksi kedua yang merupakan karyawan pemilik rekening di Bank DBS Singapura.

    Lima kejanggalan itu adalah jenis huruf atau font yang tidak sama dengan aslinya, tanda tangan di-copy paste, letak tanda tangan sama di semua transaksi dan tidak ada bedanya, barcode yang sama pada 9 transaksi, tidak konfirmasi pemilik rekening, dan nomor faximile bukan dari pemilik tapi milik orang lain.

    “Transaksi itu ilegal karena tanda tangan dipalsukan, yang berhak mengeluarkan permintaan penarikan hanya saksi 2 dan saksi kedua juga yang hanya bisa mengeluarkan surat penarikan dana. Bahkan dana itu juga dialirkan ke beberapa bank lain di Indonesia, Hongkong bahkan Cina,” ungkap Andi

    Kasus ini diketahui masih dalam penelusuran Kepolisian Singapura.

    Sementara Robiatun mengaku melakukan transfer itu saat menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim, Wendra Rais.

    “Benar yang mulia, saya ingat itu saya lakukan saat masih di luar negeri,” ungkapnya. (Tb/foto: ist).

    Redaksi

    BERBAGI