Kabupaten Bandung Banjir, Warga Terobos Pakai Delman dan Perahu

    Kabupaten Bandung Banjir, Warga Terobos Pakai Delman dan Perahu

    Metroonline.id, Jakarta – Lebih dari enam ribu rumah warga tiga kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terdampak banjir. Hujan deras berdurasi panjang yang berlangsung Kamis (8/3) kemarin mengakibatkan Sungai Citarum meluap dan sejumlah tanggul jebol. Bukan hanya menggenangi pemukiman, beberapa jalan lumpuh gara-gara terendam air.

    Banjir musiman menerjang Kecamatan Bojongsoang, Baleendah dan Dayeuhkolot. Pantauan di Jalan Raya Dayeuhkolot-Banjaran, Jumat (9/3/2018) siang, akses tersebut tidak dapat dilintasi sepeda motor dan mobil.

    Ketinggian air di jalan itu bervariatif, mulai betis hingga pinggang orang dewasa. “Ketinggian air sampai pinggang orang dewasa,” kata Heri salah satu karyawan pabrik di wilayah Dayeuhkolot.

    Sejumlah warga yang menuju tempat kerja dan sekolah terpaksa melewati banjir dengan cara berjalan kaki. Selain itu, warga menerobos banjir menggunakan delman dan perahu.

    Sejumlah penyedia jasa alat transportasi delman dan perahu sigap membantu aktivitas warga. Salah satu kusir delman, Asep Dedi Hidayat, mengatakan ketinggian air di jalan tersebut mencapai satu meter.

    Dia menarik ongkos Rp 15 ribu per penumpang. “Kami antarkan langsung ke Dayeuhkolot, kalau perahu hanya sampai jembatan,” kata Asep.

    Pegawai pabrik di kawasan Dayeuhkolot yang enggan pakainnya basah, harus memilih delman. “Angkot kan enggak bisa lewat, ya pakai delman ke tempat kerjanya. Tadi ongkos untuk karyawan dan anak sekolah 10 ribu rupiah. Naik tiga kali lipat ongkos ke pabrik, soalnya kalau pakai angkot cuma tiga ribu rupiah,” kata Reni Kurniasih (29).

    Untuk naik perahu biayanya Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. Salah satu warga pengguna perahu, Iriawan (45), menitipkan sepeda motornya di rumah yang tidak terdampak banjir.

    “Saya tadi naik perahu dari jembatan ke Pasar Dayeuhkolot. Kios saya kebanjiran. Naik perahu tadi ongkosnya 10 ribu rupiah. Ya mau bagaimana lagi, daripada saya kebasahan,” ujar Iriawan.

    Kabid Kedaruratan Bencana BPBD Kabupaten Bandung Heru Kiatno menjelaskan bencana banjir yang kali ini terjadi di tiga kecamatan tersebut paling tinggi dalam rentang waktu satu bulan terakhir di awal 2018 terhitung 23 Februari hingga 9 Maret.

    “Banjir kali ini paling besar,” kata Heru di Mako BPBD Kabupaten Bandung di Jalan Wiranatakusumah, Kecamatan Baleendah.

    Heru mengungkapkan ketinggian air di pemukiman warga mencapai 250 sentimeter, padahal Kamis (8/3) pagi air sudah surut. Kamis malam, sekitar pukul 20.00 WIB, air kembali tinggi.

    “Banjir ini akibat luapan Sungai Citarum dan airnya kiriman dari wilayah Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang,” tutur Heru.

    Data yang dihimpun dari BPBD Kabupaten Bandung, jumlah pengungsi dari tiga kecamatan itu mencapai 583 KK, 1883 Jiwa, di antaranya 197 lansia, 163 balita, 17 ibu hamil, 177 anak dan 57 ibu menyusui. Sementara jumlah rumah yang terendam mencapai 6.361 rumah, 7 gedung sekolah, 8 fasilitas umum dan 36 tempat ibadah.

    Meski banjir yang melanda kawasan tersebut tergolong besar dari biasanya, warga yang memiliki rumah loteng atau berlantai dua, tetap memilih bertahan di rumahnya.

    “Belum ngungsi karena ada lantai 2, ketinggian air bervariatif sekitar 2-3 meter,” ujar salah satu warga, Asep Effendi.

    Karena arus air yang berada di pemukiman tersebut masih cukup deras, Asep harus menggunakan ban dalam mobil truk yang dimodifikasi dengan memakaikan papan kayu di atasnya dan digunakan untuk mengarungi arus banjir. Bukan hanya itu, seutas tambang dipasang di rumah warga sebagai pegangan agar ban tersebut tidak terbawa arus air.

    “Iya harus menggunakan ban, selain dalam arus airnya masih kencang,” ucap Asep. (Dt/foto: ist).

    Tati Triani

    BERBAGI